Jumat, 04 Januari 2013

Direct Foreign Investment: Studi Kasus pada PT LG Electronics




            LG Electronics, Inc. didirikan pada tahun 1985 sebagai pelopor di pasar elektronik di Korea. Perusahaan ini menghasilkan produk-produk elektronik serta produk informasi dan komunikasi. Dengan lebih dari 66.000 karyawan (31.614 di Korea / 35.000 diluar Korea) yang ada di 76 cabang di 39 negara di dunia, LG Electronics terdiri dari 4 bisnis utama perusahaan termasuk Mobile Communications, Digital Appliance, Digital Display, dan Digital Media. LG Electronics memiliki 46 institusi teknologi dan pusat penelitian di seluruh dunia.
            PT LG Electronics Indonesia berdiri di Indonesia pada tahun 1990. PT LG Electronics Indonesia merupakan salah satu bagian dari LG Group yang didirikan di Korea pada tahun 1947. Perusahaan yang bergerak di bidang elektronik ini pada awalnya merupakan kesepakatan antara Goldstar Korea dengan Astra Indonesia untuk membentuk perusahaan elektronik di Indonesia yang bernama PT. Goldstar Astra Indonesia. Pada tahun 1996, PT. Goldstar Astra mengalami perubahan nama menjadi PT LG Astra Electronics, dan merek yang digunakan berubah menjadi LG, yang merupakan singkatan dari Lucky Goldstar.

DIRECT FOREIGN INVESTMENT PT. LG ELECTRONICS
A.      MOTIF
1.         Motif Terkait Pendapatan
a.    Menarik Sumber Permintaan Baru
Persaingan yang ketat dan pangsa pasar di negara asal yang mungkin telah mendekati puncak menyebabkan perusahaan dapat mempertimbangkan pasar asing yang masih memiliki potensi permintaan. Indonesia dinilai PT LG Electronics memiliki pasar yang cukup menjanjikan karena di Indonesia pasar di beberapa barang belum terbentuk dan menawarkan peluang untuk dapat ditembus oleh MNC. Misalnya, didirikannya PT LG Electronics Indonesia, dapat mengakibatkan adanya permintaan baru atas barang yang belum terbentuk di Indonesia sebelumnya. Contohnya, PT LG Electronics Indonesia meluncurkan AC Hybrid, varian audio terbaru (video docking speaker), dan televisi tiga dimensi LG 84 inch Ultra High Definition 3D yang ketiga produk tersebut masih belum banyak terbentuk sehingga menawarkan peluang untuk dapat ditembus PT LG Electronics Indonesia.
b.   Memasuki Pasar yang Menguntungkan
Jika perusahaan lain dapat memperoleh laba yang besar dari pasar lain, maka MNC mungkin memutuskan untuk melakukan penjualan pada pasar tersebut. MNC biasanya akan mengurangi harga saat ini yang relatif tinggi. Dapat diambil contoh dengan berkembangnya permintaan akan smartphone di Indonesia, LG Electronics menawarkan produk smartphone Android yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia, yaitu LG Optimus Me (LG P350) dengan harga sekitar Rp 1,5 juta.
c.    Memanfaatkan Keuntungan Monopolistik
Jika suatu perusahaan menguasai teknologi dan telah berhasil memanfaatkan keunggulan ini di pasar lokal, maka perusahaan mungkin akan berupaya untuk juga memanfaatkan keunggulan ini secara internasional. Kita ketahui bahwa LG Electronics sudah cukup berhasil mengembangkan teknologinya di Korea, sehingga perusahaan ini dapat memanfaatkan teknologi yang sudah teruji tersebut di negara lain.
d.   Reaksi terhadap Batasan Perdagangan
Misalnya PT LG Electronics mendirikan anak perusahaan di Indonesia sebagai antisipasi jika suatu hari ekspor mereka ke Indonesia terkena batasan perdagangan yang lebih ketat.
2.         Motif Terkait Biaya
a.    Memanfaatkan Skala Ekonomi secara Penuh
Tujuan LG Electonics menjual produknya di pasar baru Indonesia mungkin ingin meningkatkan laba dan kekayaan pemegang saham melalui skala ekonomi, sehingga biaya rata-rata per unit lebih rendah dengan meningkatkan produksi. Memperoleh keuntungan dari skala ekonomi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan mesian secara penuh.
b.   Menggunakan Faktor Produksi Asing
MNC sering kali berupaya untuk melakukan produksi di lokasi di mana tanah dan biaya tenaga kerja cukup murah. Kita ketahui bahwa biaya hidup dan UMR di Indonesia tidak terlalu tinggi, maka PT LG Electronics memutuskan untuk mendirikan anak perusahaannya di Indonesia.
c.    Penggunaan Teknologi Asing
Perusahaan yang banyak mendirikan pabrik di luar negeri akan menguntungkan perusahaan untuk mengetahui teknologi apa yang sedang digunakan di negara tersebut. Teknologi ini kemudian digunakan untuk memperbaiki proses produksinya sendiri dan meningkatkan efisiensi produk di seluruh pabrik anak perusahaan di dunia.
d.   Reaksi terhadap Perubahan Kurs
Jika perusahaan memperkirakan bahwa mata uang asing dinilai terlalu rendah, perusahaan mungkin mempertimbangkan untuk melakukan investasi asing langsung di negara tersebut, karena investasi awalnya tidak mahal. PT LG Electronics mendirikan anak perusahaan di Indonesia mungkin salah satu alasannya adalah karena kurs Indonesia lebih rendah daripada kurs Dollar Amerika dan Won Korea Selatan.
B.       RISIKO NEGARA
1.         Risiko Politik
a.    Sikap Konsumen di Negara Setempat
Misalnya kecenderungan warga untuk membeli barang produksi lokal saja. Meskipun eksportir memutuskan untuk mendirikan anak perusahaan di negara asing, filosofi warga tersebut dapat menghalangi keberhasilan MNC. Jika konsumen sangat setia terhadap produk lokal, maka strategi kerja sama dengan perusahaan lokal mungkin lebih menguntungkan dibandingkan ekspor.

b.   Tindakan Pemerintah Setempat
Misalnya pemerintah setempat dapat mengenakan standar pengendalian polusi yang mempengaruhi biaya dan pajak perusahaan tambahan yang mempengaruhi laba setelah pajak, seperti juga pajak kekayaan dan pembatasan pengiriman dana.
c.    Korupsi
Korupsi dapat meningkatkan biaya melakukan usaha atau mengurangi pendapatan. Berbagai bentuk korupsi dapat terjadi antarperusahaan atau antara perusahaan dengan pemerintah. Sudah kita ketahui bahwa indeks korupsi di Indonesia sudah mencapai level yang tinggi, sehingga risiko korupsi ini menjadi sangat mungkin terjadi jika perusahaan asing ingin mendirikan anak perusahaannya di Indonesia.
2.         Faktor Risiko Ekonomi
a.    Suku Bunga
Suku bunga yang tinggi cenderung memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan produk MNC. Sebaliknya, suku bunga yang rendah sering kali dapat menstimulasi perekonomian dan meningkatkan permintaan atas produk MNC.
b.   Kurs
Kurs dapat memengaruhi permintaan ekspor suatu negara, yang selanjutnya akan memengaruhi produksi dan tingkat pendapatan negara tersebut. Mata uang yang kuat dapat mengurangi permintaan atas ekspor dari negara tersebut, meningkatkan volume impor produk oleh negara tersebut, dan karenanya mengurangi produksi dan pendapatan nasional negara tersebut. Mata uang yang lemah dapat menyebabkan arus keluar spekulatif dan mengurangi jumlah dana yang tersedia untuk membiayai pertumbuhan usaha. Seperti yang kita tahu, bahwa mata uang Rupiah cukup lemah terhadap Dollar Amerika dan Won Korea.
c.    Inflasi
Inflasi dapat memengaruhi daya beli konsumen dan juga permintaan mereka atas produk MNC. Inflasi juga memiliki dampak tidak langsung pada kondisi keuangan suatu negara melalui pengaruhnya terhadap suku bunga dan kurs mata uang negara tersebut. Inflasi tinggi juga dapat mengarah pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi di Indonesia, dimana tingkat inflasi di Indonesia cukup tinggi sehingga harga barang dan jasa cenderung mengalami kenaikan dan membuat nilai Rupiah terus melemah.
C.    ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
1.      Menghitung NPV Berdasarkan Rata-rata Tertimbang Biaya Modal (WACC)
WACC merupakan bobot biaya yang dikenakan pada tiap komponen modal, yang berfungsi untuk menentukan tingkat pengembalian proyek yang diinginkan perusahaan. Pertama, LG Electronics harus menghitung perkiraan WACC untuk pembiayaan proyek di Indonesia terlebih dahulu. Apabila proyek di Indonesia tersebut dibiayai dengan mata uang asing (seperti Won atau USD), maka LG Electronics harus memperhatikan eksposur terhadap perubahan kurs yang mungkin terjadi. Kedua, LG Electronics dapat berusaha untuk memperkirakan bagaimana perkiraan perubahan kurs dapat mempengaruhi arus kasnya saat melakukan analisis penganggaran modal. Selanjutnya, LG Electronics dapat mempertimbangkan risiko dalam estimasi arus kas. beberapa kemungkinan nilai variable masukan (seperti permintaan, harga, biaya tenaga kerja, dll) dapat digabungkan dalam perkiraan NPV berdasarkan berbagai skenario dan kemungkinan menghitung distribusi probabilitas NPV. Jika WACC digunakan sebagai tingkat pengembalian yang diinginkan, dapat dibuat distribusi probabilitas NPV untuk menentukan probabilitas proyek yang akan menghasilkan pengembalian dan membandingkannya dengan WACC. Bila distribusi probabilitas mencakup beberapa NPV yang negative, ini merupakan perkiraan bahwa proyek dapat merugikan. Metode ini bermanfaat untuk memperhitungkan risiko karena metode ini secara eksplisit menggabungkan berbagai kemungkinan scenario dalam estimasi NPV dank arena itu dapat mengukur probabilitas proyek akan merugi atau tidak.
2.      Menyesuaikan WACC dengan Risiko
Jika proyek asing LG Electronics diperkirakan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan risiko MNC saat itu, maka dapat ditambahkan premi atas WACC untuk memperoleh tingkat pengembalian proyek yang diinginkan. Lalu, proses penganggaran modal akan menggunakan tingkat pengembalian yang diinginkan ini sebagai tingkat diskonto. Jika proyek asing memiliki risiko rendah, LG Electronics akan menggunakan tingkat pengembalian proyek yang lebih kecil dibandingkan WACC-nya. Manfaat metode ini terbatas karena premi risiko ditentukan secara arbitrer dan memiliki kemungkinan salah. Premi risiko bergantung pada manajer LG Electronics yang melakukan analisis. Oleh karena itu, keputusan untuk menerima atau menolak proyek asing, yang dibuat berdasarkan estimasi NPV proyek, akan tergantung dari keputusan arbitrer manajer mengenai premi risko yang akan digunakan dalam menentukan tingkat pengembalian yang diinginkan.
3.      Menghitung NPV dari Investasi Ekuitas
Kedua metode di atas mengabaikan pelunasan utang karena biaya utang telah tercakup dalam tingkat pengembalian yang diinginkan. Apabila perusahaan induk LG Electronics membiayai sebagian proyek asing di Indonesia, maka kedua metode tersebut kurang efektif, karena tidak mengukur bagaimana pelunasan mata uang asing akan mempengaruhi arus kas. Beberapa pelunasan MNC di negara asing dapat mengurangi eksposur atas risiko kurs, yang memengaruhi arus kas yang nantinya diterima induk perusahaan. Untuk secara eksplisit memperhitungkan dampak kurs, LG Electronics dapat menilai proyek dengan mengukur NPV atas investasi ekuitas proyek. Seluruh pelunasan utang akan dipertimbangkan jika menggunakan metode ini, sehingga analis secara penuh memperhitungkan dampak perubahan kurs. Lalu, NPV dari seluruh arus kas yang diterima oleh induk perusahaan dapat dibandingkan dengan investasi awal anak perusahaan dalam proyek. LG Electronics dapat menggunakan analisis yang sama untuk berbagai alternative pembiayaan untuk menentukan proyek yang menghasilkan NPV yang paling menguntungkan.
a.      Hubungan antara NPV dengan Struktur Modal
NPV proyek asing tergantung dari struktur modal proyek karena dua hal. Pertama, struktur modal dapat memengaruhi biaya modal. Kedua, struktur modal memengaruhi jumlah arus kas yang didistribusi ke kreditur di negara setempat sebelum dikenakan pajak dan pengiriman kembali dana kepada induk perusahaan.
b.      Kompensasi Pembiayaan pada Negara Berkembang
Beberapa negara berkembang umumnya memiliki beban bunga utang yang tinggi, tetapi mata uang lokalnya cenderung melemah terhadap dolar. Oleh karena itu, LG Electronics harus mentoleransi pembiayaan utang lokal dengan biaya tinggi atau meminjam dalam Won tetapi terkena risiko kurs yang tinggi. Kompensasi ini dapat dinilai dengan baik dengan mengestimasi NPV dari investasi ekuitas LG Electronics berdasarkan tiap alternative pembiayaan.
c.       Membandingkan Komposisi Utang Alternatif
Pada contoh ini, penekanannya adalah apakah utang harus berasal dari Rupiah atau Won. Analisis ini juga dapat mempertimbangkan struktur jatuh tempo utang yang berbeda dan dapat mempertimbangkan pinjaman dengan suku bunga mengambang yang disesuaikan dengan suku bunga pasar dengan membuat satu atau lebih scenario mengenai bagaimana suku bunga pasar akan berubah di masa depan. Intinya adalah bahwa seluruh pembiayaan bunga dan pokok pinjaman harus diperhitungkan bersama dengan arus kas lainnya. Lalu NPV arus kas dapat dibandingkan dengan investasi awal untuk menentukan apakah investasi ekuitas tersebut menguntungkan.
d.      Membandingkan Struktur Modal Alternatif
Keputusan struktur modal tidak hanya mempertimbangkan komposisi utang tetapi juga proporsi ekuitas terhadap utang yang harus digunakan. Contoh proporsi ekuitas terhadap utang yaitu sbb:
·         50% ekuitas dan 50% utang.
·         60% ekuitas dan 40% utang.
·         70% ekuitas dan 30% utang.
Harus dilakukan analisis untuk menentukan apakah penggunaan ekuitas yang lebih banyak akan menghasilkan NPV lebih tinggi atau tidak dari investasi ekuitas tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar