Jumat, 04 Januari 2013

Konsep Religius Sebagai Salah Satu Nilai Karakter


Dewasa ini Indonesia sedang gencar menerapkan sistem pendidikan karakter guna mendidik para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap matapelajaran maupun matakuliah yang diajarkan oleh semua instansi pendidikan kepada para siswa maupun mahasiswa. Menurut Kementrian Pendidikan Nasional (2010) terdapat 18 nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan karakter, salah satunya adalah religius.
Menurut Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, Ph.D (dikutip oleh Suparlan, 2010) karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat. Sedangkan lebih lanjut lagi, Suparlan (2010) menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sengaja atau sadar untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusian yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, proses pendidikan karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan.
Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang (Thontowi, 2012). Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan (2010) sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Pembentukan karakter Religius ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders pendidikan dapat berpartisipasi dan berperan serta, termasuk orang tua dari siswa itu sendiri (E-learning Pendidikan, 2011).
Kementrian Lingkungan Hidup (dikutip oleh Thontowi, 2012) menjelaskan 5 (lima) aspek religius dalam Islam, yaitu:
a.       Aspek iman, menyangkut keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, para nabi dan sebagainya.
b.      Aspek Islam, menyangkut frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah yang telah ditetapkan, misalnya sholat, puasa dan zakat.
c.       Aspek ihsan, menyangkut pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan, takut melanggar larangan dan lain-lain.
d.      Aspek ilmu, yang menyangkut pengetahuan seseorang tentang ajaran-ajaran agama.
e.       Aspek amal, menyangkut tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya menolong orang lain, membela orang lemah, bekerja dan sebagainya.
Kemudian secara universal, Thontowi (2012) mengemukakan 6 (enam) komponen religius, antara lain:
a.       Ritual, yaitu perilaku seromonial baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
b.      Doctrin, yaitu penegasan tentang hubungan individu dengan Tuhan.
c.       Emotion, yaitu adanya perasaan seperi kagum, cinta, takut, dan sebagainya.
d.      Knowledge, yaitu pengetahuan tentang ayat-ayat dan prinsip-prinsip suci.
e.       Ethics, yaitu atauran-aturan untuk membimbing perilaku interpersonal membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.
f.       Community, yaitu penegasan tentang hubungan manusia dengan makhluk atau individu yang lain.
Menurut perspektif Thontowi (2012) religius memiliki 5 (lima) dimensi utama. Kelima dimensi tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Dimensi Ideologi atau keyakinan, yaitu dimensi dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai, misalnya kepercayaan adanya Tuhan, malaikat, surga, dsb. Kepercayaan atau doktrin agama adalah dimensi yang paling mendasar.
b.      Dimensi Peribadatan, yaitu dimensi keberagaman yang berkaitan dengan sejumlah perilaku, dimana perilaku tersebut sudah ditetapakan oleh agama, seperti tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa, shalat atau menjalankan ritual-ritual khusus pada hari-hari suci.
c.       Dimensi Penghayatan, yaitu dimensi yang berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama atau seberapa jauh seseorang dapat menghayati pengalaman dalam ritual agama yang dilakukannya, misalnya kekhusyukan ketika melakukan sholat.
d.      Dimensi Pengetahuan, yaitu berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan seseorang terhadap ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
e.       Dimensi Pengamalan, yaitu berkaitan dengan akibat dari ajaran-ajaran agama yang dianutnya yang diaplikasikan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR RUJUKAN

Elearning Pendidikan. 2011. Membangun Karakter Religius Pada Siswa Sekolah Dasar. (Online), (http://www.elearningpendidikan.com), diakses 4 September 2012.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan Karakter. (Online), (http://www.perpustakaan.kemdiknas.go.id), diakses 4 September 2012.

Suparlan. 2010. Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah dan Apa yang Harus Kita Lakukan. (Online), (http://www.suparlan.com), diakses 4 September 2012.

Thontowi, A. 2012. Hakekat Religiusitas. (Online), (http://www.sumsel.kemenag.go.id), diakses 4 September 2012.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar